Cari Blog Ini

LAPORAN UTAMA, PENDIDIKAN, KESEHATAN, LINGKUNGAN, DAERAH

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

48 Guru Papua Disiapkan Jadi Master Trainer Cegah HIV-AIDS


Kampanye HIV/Aids
Biak (MAJALAH KOMUNITAS) - Sedikitnya 48 guru SD hingga SMA/SMK di provinsi Papua telah dilatih serta disiapkan sebagai tenaga master of trainer pendidikan pencegahan HIV/AIDS di sekolah.

Program HIV/AIDS Unicef Papua, Mery Weyai dihubungi di Biak,Rabu,mengatakan, sebelum ditugaskan sebagai master trainer pencegahan HIV/AIDS 48 guru dari empat kabupaten, yakni kabupaten Biak Numfor, Mimika, Jayawijaya dan Jayaputa sudah mengikuti pelatihan TOT dilakukan Unicef perwakilan perwakilan Papua dengan dinas pendidikan.

"Melalui dukungan guru TOT pencegahan HIV/AIDS bisa diajarkan kepada guru lain di berbagai jenjang pendidikan," ungkap Mery Weyai menanggapi peran guru dalam pencegahan HIV/AIDS di sekolah.

Untuk guru TOT pencegahan HIV/AIDS,menurut Mery, telah melakukan sosialisasi tentang program kecakapan hidup (life school education) bagi siswa di sekolah maupun para guru lain di setiap sekolah lewat pelatihan di lokasi tertentu.

.Mery mengharapkan, berbagai pihak berkewajiban mencegah penularan HIV/AIDS melaluo penyebarluasan informasi ancaman penyakit menular serta cara mencegah penyakit berbahaya yang kini belum ada obatnya.

"Keterlibatan serta kepedulian berbagai elemen masyarakat akan ancaman bahaya penyakit menular HIV/AIDS harus ditingkatkan, ya bahaya penyakit menular ini bisa mengancam siapa saja,"imbuh Mery.

Mery mengimbau, dinas pendidikan kabupaten/kota di provinsi Papua dapat memasukan program pencegahan HIV/AIDS di sekolah-sekolah sehingga siswa dapat memahami serta mengerti tentang pencegahan HIV/AIDS. ***
Sumber : Antara

Sabtu, 05 Maret 2011

SMS GELAP : Soal Enterobacter Sakazakii Menyebut Beberapa Merek Susu

Kultur bakteri Enterobacter sakazakii.Foto: Wikipedia
BEKASI (Majalah Komunitas), Majalah Komunitas menerima SMS lewat nomor pengaduan di 021 931 36 201, pada Sabtu, 05 Maret 2011, pukul 04.20 dini hari tadi yang menyebutkan bahwa peneliti dari IPB, DR. Sri Estuningsih telah menyebutkan nama-nama susu yang tercemar bakteri sakazakii tersebut.

Ada 6 merek susu yang biasa dikonsumsi anak-anak yang disebutkan dalam SMS gelap tersebut. Termasuk 1 buah merek bubur bayi. Saat nomor pengirim itu dihubungi balik pihak redaksi Majalah Komunitas, nomor tersebut sudah tidak aktif. 

Inilah bunyi SMS yang dikirimkan ke Redaksi Majalah Komunitas :

DR Sri Estuningsih pneliti pnemu bakteri Enterobacter sakazakii IPB akhrny buka mulut & mngatakn susu yg trkontaminasi adlh bebelac, dancow, bendera, S26 & susu SGM2. 

Unt bubur  DR Sri hy berujar product SUN. 

Mhn sms ini diforward ke rekan2 demi kebaikan bersama.

05-03-2011
04:20:13
08578156xxxx

Sumber : Majalah Komunitas

Jumat, 11 Februari 2011

Tips Menghindari Bakteri Enterobacter Sakazakii



1.      Dianjurkan menggunakan air yang dimasak sampai mendidih. Biarkan air selama 10-15 menit agar suhunya turun menjadi tidak kurang dari 70 derajat celcius.

2.      Siapkan susu sebanyak yang dapat dihabiskan bayi dan sesuai takaran yang dianjurkan pada label.

3.      Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.

4.      Perlu diketahui bahwa susu formula bukan suatu produk yang steril dan dapat terkontaminasi kuman yang menyebabkan penyakit.

Sumber Siaran Pers Kementerian Kesehatan

Jumat, 21 Januari 2011

Liza R Sutadi: Anak Autis Hindari Susu, Terigu dan Gula


Bekasi Selatan – Terapi untuk anak autis sebaiknya sudah dilakukan sedini mungkin. Proses terapi dapat dilakukan sejak usia 2-3 tahun. Karena tanda-tanda apakah seorang anak mengalami autis sudah dapat dilihat pada usia tersebut.

“Namun yang lebih penting orang tua harus lebih ketat mengawasi pantangan bagi anak yang berkebutuhan khusus tersebut,” kata Liza R Sutadi terapis autis dari KID Autis Back to ABA saat simulasi penanganan autis terhadap orang tua siswa di TK Negeri Pembina Kota Bekasi beberapa waktu lalu.

Dengan adanya simulasi dan pengetahuan yang baik terhadap orang tua, ia berharap terapi yang baik dan diet ketat terhadap pantangan demi mencapai keberhasilan terapi bergantung banyak pada orang tua.

“Kalau orang tua tetap memanjakan anak tanpa diet ketat, maka terapi juga sia-sia. Terutama yang tidak boleh diberikan terhadap anak autis misalnya minum susu kaleng, makanan yang mengandung terigu dan gula,” ingat Liza.

Dia juga memberikan pengetahuan soal tanda-tanda anak autis antara lain dapat terlihat dari telat bicara antara 2-3 tahun, bicara 1 kata kemudian hilang/hanya babbling (suara/kata yang tidak ada artinya), tidak ada kontak mata, lebih senang menyendiri. Kemudian, tidak bisa bersosialisasi dengan anak lain, tidak bisa menunjuk apa yang diinginkan, tidak bisa mengkomunikasikan dengan bahasa tubuh, stimulasi diri seperti : jinjit-jinjit, hand plaping (mengepakan tangan), memutar benda-benda atau dirinya sendiri.

Ada juga tanda-tanda dari kebiasaan seperti senang  terhadap objek tertentu (mis, tombol telepon, keyboard dll) atau melakukan sesuatu hal yang tidak fungsional berulang ulang (buka tutp pintu, nyala matikan lampu dll).

“Jika terjadi antara 2-3 dari kategori tersebut, dapat dipastikan anak itu menderita autis,” terangnya.

Namun, perlu diketahui autis dapat disembuhkan, asalkan pola diet ketat dan disiplin orang tua menjaga anaknya terhadap pantangan bagi sianak autis. “Misalnya, sebaiknya ibu-ibu memberikan ASI terhadap anak hingga usia 2 tahun,” kata Liza kepada orang tua siswa yang sekaligus melaksanakan simulasi penanganan terapi terhadap anak autis.

Sementara factor penyebab anak autis misalnya disebabkan oleh polusi udara/lingkungan, makanan si ibu saat hamil terutama dari kerang-kerangan dari laut tercemar, minum obat tanpa resep dokter, faktor genetik atau keturunan, termasuk jika sang ibu sering mengkonsumsi narkoba. (001/red)      

Tanda-Tanda Anak Autis

1.       Telat bicara antara 2-3 tahun
2.       Bicara 1 kata kemudian hilang/hanya babbling (suara/kata yang tidak ada artinya)
3.       Tidak ada kontak mata 4. Lebih senang menyendiri
4.       Tidak bisa bersosialisasi dengan anak lain
5.       Tidak bisa menunjuk apa yang diinginkan
6.       Tidak bisa mengkomunikasikan dengan bahasa tubuh
7.       Stimulasi diri seperti : jinjit-jinjit, hand plaping (mengepakan tangan), memutar benda-benda atau dirinya sendiri
8.       Senang  terhadap objek tertentu (mis, tombol telepon, keyboard dll)
9.       Melakukan sesuatu hal yang tidak fungsional berulang ulang (buka tutp pintu, nyala matikan lampu dll)