Cari Blog Ini

LAPORAN UTAMA, PENDIDIKAN, KESEHATAN, LINGKUNGAN, DAERAH

Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

Syariat Islam Dalam Membangun Pemerintahan Yang Bersih


Nuryaman
Guru Sukwan di SDN Sirnagalih 03 Garut 

Pemerintahan yang bersih adalah dambaan setiap orang. Sudah sejak lama kita semua menginginkan tanah air ini terbebas dari polusi KKN dan penyimpangan hukum lainya. Namun itu semua hanyalah harapan penghuni negeri ini yang belum terwujud. Dan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh stakeholders mempunyai komitmen yang tinggi.

Sebagai Negara muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya malu menyandang gelar dan peringkat atas sebagi negara korup di dunia. Dibandingkan Negara-negara atheis/komunis lainnya yang tidak menjungjung tinggi Hukum Allah. Tapi mengapa justru Indonesia yang dipandang sebgai negara hukum, memiliki predikat buruk dimata dunia terlebih di mata warganya sendiri. Tidak hanya para Elit politik,  Penguasa, Dewan, bahkan budaya korup kayaknya sudah menjamur ke kalangan pemerintahan bawah. Tidak sedikit para penguasa negeri ini yang terjebak KKN, bukannya ditobatin malah asyik terus berkarya dengan konsep korupsinya.

Tidak sedikit pula generasi muda yang menjadi tumpuan pembangunan negeri ini, yang sudah menikmati baunya korupsi. Ini karena kesalahan orang tua yang tidak hati – hati dalam menumbuh kembangkan anak dengan harta haram hasil korupsi, hasil judi atau hasil kejahatan lainnya. Anak yang tadinya permata orang tua, kini harus melanjutkan kebobrokan warisan budaya jelek orang tuanya.

Daging, susu, protein, vitamin bahkan karbohidrat yang menjadi asupan gizi anak dihasilkan dari tetesan keringat kerja korupsi. Maka jangan heran jika seandainya Indoneasia sebagai Negara muslim kurang  atau bahkan tidak akan mendapatkan keberkahan hidup.

Faktor penyebab kerusakan birokrasi :

1. Faktor individu
Orientasi dan pemahaman manusia tentang kebahagiaan mengalami pergeseran paradigma yang kemudian menentukan perubahan sikap. Perubahan ini akibat dari perubahan ideology yang dianut bangsa tersebut.

Masyarkat sekarang ini dominan menjungjung tinggi materialisme. Maka kebahagiaan diukur dari berapa banyak uang yang didapat dan dimiliki. Masyarakat seperti ini segala sesuatu diukur dengan uang. Maka ketaqwaan, kebahagiaan, kesejahteraan, kehormatan, bahkan status sosial sekalipun. Karena itu segala cara dihalalkan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Tidak penting diperoleh cara halal/haram.

Dengan begitu materialisme akan mempengaruhi karakter individu tidak hanya masyarkat bahkan pejabat sekalipun. Mereka tidak lagi punya rasa malu / bersalah menghadapi dan bergelut dengan fenomena korupsi.

Artinya sumbangan faktor individu dalam kerusakan birokrasi punya kontribusi besar. Akibatnya dalam masyarakat ini sekarang kita hidup wajar bila kemudian kita menghadapi malpraktek dan tingginya tingkat korupsi.
2. Faktor system
Seluruh system kenegaraan, pemerintahan, hukum dan sosial
a.       System hukum yang lemah tidak bisa menjalankan fungsinya guna mencegah terjadinya KKN serta membuat jera para pelaku.
b.      System sosial. Dalam masyarakat yang menghormati kejujuran, kebenaran, dan keamanan korupsi adalah tindakan yang paling dibenci dan dicaci.

Solusi Islam

Pemerintaha yang baik bersih bisa dicapai antara lain membina masyarakat secara global dan continue agar menjadi sosok proibadi muslim yang taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang menyadari bahwa pemerintahan yang baik dapat dibangun oleh individu yang taqwa dan system yang benar.

Masyarakat juga terus menerus disadarkan bahwa system yang adil dan benar akan memberikan harapan bagi mereka yang menjamin keadilan serta melindungi rakyat.

Kesempurnaan Islam

Terlihat dari aturan system penggajian yang layak, diberikan pada para pejabat.

·         Larangan menerima suap dan hadiah.
Setiap bentuk suap apapun bentuk dan modelnya, tetap hukumnya haram. Firman Allah SWT dalam surat Al Baqoroh ayat 188 :
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.
Kemudian dalam hadist rasulallah saw.
Sabda Nabi : “Allah swt. Melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang menyaksikan suap. ( H. R. Ahmad, Thabrani, Al Bazzar dan hakim )

·         Perhitungan kekayaan.
Setiap para pejabat mulai dari awal jabatannya dihitung hartanya. Kemudian menghitung ulang diakhir jabatan. Bila kedapatan kenaikan yang tidak wajar, maka harus diserahkan kelebihannya kepada negara atau membagi dua kekayaan tersebut.

·         Keteladanan pemimpin
Pengangkatan seorang pemimpin haruslah mengikuti proses seleksi yang panjang dan ketat. Hal ini bisa diukur mulai dari tingkat intelektual, shaleh, paling baik sosial dilingkungannya, bijaksana, dan disitulah sumber kepemimpinan berasal. Bagi mereka yang memiliki cela dan dho’if tidak mesti dijadikan calon.

·         Penegakan hokum.
Merupakan aspek yang harus dijalani secara syariat islam. Penegakan hukum harus dijalankan dengan adil benar, bagi para pelanggar hukum seperti koruptor mestilah dijerat dengan hukuman supaya jera sebagai tindakan prefentiv. Apalagi para koruptor dapat dihukkum ta’syir berupa pewartaan diri koruptor.

·         Kualitas SDM
System islam menanamkan iman kepada seluruh warga, terutama pejabat. Dengan iman, setiap orang merasa wajib untuk taat pada peraturan Allah swt. Orang beriman sadar akan konsekuensi dari ketaatan / pelanggarannya.
Dengan iman akan tercipta pengendalian diri yang andal serta orang akan berusaha keras mencari rezeki secara halal yang diridhoi Allah swt. 

·         System kontrol yang kuat.
System ini penting yang harus ada dalam membanngun pemerintahan yang baik dan bersih. Kontrol harus dilakukan oleh semua orang mulai dari atasan sampai bawahan tak terkecuali masyarakat. Semua orang harus menyadari bahwa keinginan membangun pemerintahan yang baik dan bersih harus dilakukan secar bersama-bersama. Umar berkata “apabila kalian melihatku menyimpang dari ajaran islam, maka luruskanlah aku walaupun dengan pedang, lalu seorang laki-laki menyambut dengan lantang, “kalau begitu demi Allah aku akan meluruskanmu dengan pedang ini.

Harapan itu akan terwujud apabila seluruh penghuni negeri ini mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kemajuan bangsa. Tak lupa juga untuk selalu mendoakan para pemimpin agar selalu menjalankan tugasnya berdasarkan amanat rakyat, bukan hawa nafsu semata. Kita percaya bahwa bangsa ini masih mempunyai banyak pemimpin yang betul-betul bekerja dengan amanah.

BIOGRAFI :
Nama              : Nuryaman
Bekerja di       : SDN Sirnagalih 03 (Guru Sukwan)
Alamat            : Jl. Pangauban Kp. Sukasari RT 03/03 Ds. Pakuwon Kec. Cisurupan, Garut
Telepon          : 085222679xxx

Minggu, 09 Januari 2011

Lulusan SMK Juga Bisa Kuliah Sampai Doktor


Gunawan Abidin
Ph.D student, Biological Science Burapha University, Bangsaen, Thailand

Saat tahun ajaran baru, para orang tua sibuk mempersiapkan putra putrinya untuk mendaftar sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Biasanya orang tua memilih sekolah favorit walau dengan persyaratan nilai akademik yang tinggi dan biaya yang lebih besar tentunya. Hal ini mungkin berlaku untuk orang tua menengah ke atas yang tidak dipusingkan oleh biaya pendidikan dan sarana lainnya yang diperlukan untuk putra putrinya selama menempuh pendidikan.

Dan tengoklah bagaimana potret para orang tua di Desa dengan rata rata ekonomi menengah kebawah yang kebanyakan petani/nelayan dengan kepemilikan lahan sempit atau sebagai buruh tani. Merekapun punya cita-cita tinggi menyekolahkan putra putri mereka, menabung hasil panen dengan harapan generasi berikutnya bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi tidak seperti mereka para orang tua yang rata rata tamatan Sekolah Dasar.

Kebanyakan masyarakat Desa memilih sekolah bukanlah karena  favorit atau tidak favorit akan tetapi lebih karena  terjangkau lokasi dan lebih irit  biaya transportasi.  Dan terkadang dengan alasan anak bisa membantu orang tua selepas sekolah semisal ke sawah atau menyabit rumput.

Beberapa tahun terakhir pemerintah mencanangkan lagi peningkatan sekolah kejuruan dengan menambah jumlah SMK  yang diharapkan lulusannya lebih siap untuk pasar kerja. Upaya ini adalah berdasarkan data banyaknya lulusan SLTA dan sarjana yang menganggur walaupun lulusan SLTA dibekali dengan cakupan bidang ilmu yang lebih  luas akan tetapi terkendala dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. sehingga visi pemerintah untuk mencetak lebih banyak wirausahawan dan meningkatkan  pertumbuhan ekonomi  dan penyerapan tenaga kerja  akan lebih mudah dicapai melalui jenjang SMK .

Kurikulum SMK memang lebih banyak praktek atau ”learning by doing” dan menyesuaikan bidang ilmu dengan potensi Daerah yang bisa dikembangkan. Harapannya akan bermunculan intrepreneur baru, UKM baru, pabrik baru dan membuka lapangan  kerja baru. Juga lulusan SMK pun bisa berkarier di jajaran pemerintahan, birokrat ataupun politikus.

Saya teringat tayangan Tantowi Yahya di televisi dengan ”SMK BISA” dan sosok Agus Mariadi pemenang kuis Milioner yang hanya tamatan STM dan berprofesi sebagai loper koran. Kejadian ini terasa menghentak dan betapa kemampuan seseorang tidak bisa hanya diukur dari tingkat pendidikan atau dari pekerjaan yang dilakoninya.

Setelah menyaksikan  promosi ”SMK BISA” atau tayangan kuis milioner Agus Mariadi tadi apakah dengan serta merta merubah persepsi tentang sekolah di SMK lebih baik dan lebih unggul ?  mungkin diperlukan survey mengenai hal tersebut. Akan tetapi untuk masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah bersekolah di SMK merupakan suatu kebanggaan karena mungkin terjangkau biayanya, lokasi lebih dekat dan malah siswanya sudah bangga terlebih dahulu melihat seragam yang dikenakan, semisal SMK kelautan mengenakan  atribut layaknya Angkatan Laut.

Memang tidak ada masalah bagi saya apabila seseorang akan bersekolah di SLTA atau di kejuruan/SMK.Yang menjadi masalah adalah ketika ada orang tua yang menanyakan dan berkeinginan anaknya kelak berpendidikan lebih tinggi, menjadi sarjana, dosen ataupun profesor. Lazimnya di Desa mereka akan bertanya kepada tokoh masyarakat misalnya Kepala Desa, Guru, Penyuluh Pertanian ataupun pegawai lainnya. Dan disinilah masalahnya, tokoh tersebut sebagian besar akan menyarankan lebih baik sekolah ke SLTA apabila ingin kelak menjadi sarjana atau profesi yang dimaksud.

Sebagai orang Desa yang tinggal di Desa, saya rajin mempromosikan keunggulan SMK dan menceritakan berdasarkan data bahwa lulusan SLTA yang dapat melanjutkan pendidikan  ke perguruan tinggi hanya sekitar 40 persen dan selebihnya tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan tidak dapat diserap di dunia kerja. Keunggulan lain dari SMK adalah  mengajarkan untuk hidup mandiri sejak dini dengan memberi contoh bahwa seseorang bisa saja menggapai jenjang pendidikan sarjana sembari bekerja dengan tidak bergantung atau membebani orang tua.

Jadi  sekolah di SMK pun kita bisa mengenyam pendidikan formal tertinggi sepanjang kita ada niat dan kesungguhan. Terlebih lagi apabila mutu pendidikan SMK ditingkatkan dengan pembenahan terhadap persoalan yang dihadapi. Pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang  memberikan kemampuan dasar dan ketrampilan  minimal, menerapkan konsep belajar tuntas sehingga membentuk karakter kreatif, mandiri dan demokratis. Terlebih lagi dengan mengajak Lembaga Swadaya Masyarakat, paguyuban ataupun kelompok pakar di Daerah maupun Nasional  untuk urun rembuk tentang konsep dan strategi pendidikan  tentunya dengan tujuan pendidikan  yang  mencetak wirausahawan baru.

Untuk meyakinkan tetangga saya tentang SMK dan jenjang pendidikan ke depan yang bisa dicapai akhirnya sayapun bercerita tentang pengalaman pribadi, bahwa saya sekolah jauh ke Bogor adalah untuk bersekolah di SMK  jurusan perikanan yang mendapat kemudahan beasiswa, kemudian menyelesaikan sarjana Strata 1 sambil bekerja dan akhirnya mendapat  Beasiswa dari  Program Beasiswa Unggulan Mandiri Depdiknas untuk jenjang Srata 3 (Doktor) jurusan Biologi Kelautan di Thailand. Tidak lupa saya bercerita tentang Program Beasiswa Unggulan Depdiknas yang mencoba menyentuh potensi-potensi yang ada di masyarakat dengan menyediakan Beasiswa untuk Peneliti, Pencipta, Penulis, Seniman, Wartawan, Olahragawan dan Tokoh (P3SWOT) bahkan orang cacatpun berhak dan bisa  mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Mengutip pernyataan DR. AB Susanto (Koordinator Bea Siswa Unggulan) : ”Sesungguhnya apabila ada program beasiswa yang lebih mudah didapatkan  dan menyentuh masyarakat ekonomi lemah di pedesaan dan melalui program apapun namanya, banyaklah potensi anak Desa atau anak Bangsa yang bisa mengenyam pendidikan lebih  tinggi”.

”ayo sekolah..!!” dan semoga tujuan pendidikan dan seperti yang dicanangkan oleh UNESCO yaitu : (1) learning to know ( belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) dan (4) learning to live to gether (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) bisa tercapai.


Gunawan Abidin, Desa Ubung - Lombok Tengah,
Ph.D student, Biological Science Burapha University, Bangsaen, Thailand.

Senin, 02 Agustus 2010

Strategi Pembelajaran Sains SD Melalui Model Problem Based Learning

Latar Belakang
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan hal yang tidak akan habis dibicarakan dan diupayakan. Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah mengubah paradigma pendidikan khususnya di sekolah dasar (SD) dari pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Paradigma ini menuntut para guru agar lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berprestasi melalui kegiatan-kegiatan nyata yang menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal.
Sains adalah ilmu yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan induksi. Sains hakikatnya terlahir melalui sebuah proses yang pada titik akhirnya terwujud produk Sains. Kemudian dari proses dan produk tersebut harus berimplikasi terhadap sikap. Sikap tersebut harus dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari yang disebut dengan sikap ilmiah Sains (Winataputra, 1993).

Guru dalam mengajarkan Sains tidak hanya sebatas produk saja. Produk Sains tersebut diantaranya termuat dalam buku teks pelajaran Sains. Selain produk, yang harus dilakukan guru adalah bagaimana membelajarkan siswa pada proses, aplikasi, dan sikap. Proses Sains adalah usaha membelajarkan untuk mendapatkan Sains itu sendiri menjadi miliknya. Aplikasi Sains adalah penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep Sains dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan sikap merupakan wujud rasa ingin tahu siswa tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Yang lebih penting lagi adalah proses membelajarkan Sains pada siswa yaitu siswa tidak sekedar tahu (knowing) dan hafal (memorizing) tentang konsep-konsep Sains, melainkan siswa memahami (understand) konsep-konsep Sains dan menghubungkan keterkaitan suatu konsep dengan konsep lainnya.

Jadi, proses pembelajaran Sains menuntut guru untuk senantiasa menggunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan belajar siswa ke dalam dimensi produk, proses, dan sikap. Dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif tersebut tujuan utama Sains dapat tercapai. Maka, untuk mencapai tujuan Sains tersebut dapat menggunakan model inovasi pembelajaran Sains yang dewasa ini dikembangkan yaitu model PBL (Problem Based Learning).

Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang diprediksi cocok untuk mencapai tujuan pengajaran Sains di atas. Menurut Arends (2007), PBL sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah belajar yang bersifat kontekstual. Model pembelajaran ini cocok untuk materi pelajaran yang terkait erat dengan masalah nyata, meningkatkan keterampilan proses untuk memecahkan masalah, mempelajari peran orang dewasa melalui pengalamannya dalam situasi yang nyata, serta melatih siswa untuk berdiri sendiri sebagai pebelajar yang otonom.

Secara garis besar PBL merupakan model pembelajaran yang menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. PBL tidak dirancang umtuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. PBL utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku mereka), melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) pada saat mereka melakukan kegiatan belajar. Peran guru dalam PBL terkadang melibatkan presentasi dan penjelasan sesuatu kepada siswa, namun yang lebih lazim guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, sehingga siswa belajar untuk berpikir dan memecahkan oleh mereka sendiri (Akinoglu dan Ozkardes, 2007; Arends, 2007; Tiwari, 2006).

Sains di Sekolah Dasar

Sains merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan Sains selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga ditandai oleh munculnya metode ilmiah (scientific methods) yang terwujud melalui suatu rangkaian kerja ilmiah (working scientifically), nilai dan sikap ilmiah (scientific attitudes). Jadi, jelaslah bahwa Sains dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut.

Merujuk pada pengertian Sains di atas, maka hakikat Sains meliputi empat unsur, yaitu: (1) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) aplikasi: penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep Sains dalam kehidupan sehari-hari; (4) sikap: rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar, Sains bersifat open ended.
SD merupakan tempat pertama kali anak secara khusus mempelajari Sains secara terprogram. Mereka mempelajari Sains tentang konsep-konsep yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Maka inilah yang merupakan salah satu sebab mengapa siswa sekolah dasar mempelajari Sains dalam bentuk Sains Terpadu, tidak dipecah-pecah dalam berbagai disiplin ilmu. Sains diberikan sebagai suatu kesatuan agar anak-anak dapat melihat adanya hubungan atau korelasi antar berbagai fakta yang dipelajarinya.
Pendidikan Sains di SD diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Karakteristik Problem Based Learning

PBL telah dikenal sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum PBL terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Menurut Dewey belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan dan materi guna memperoleh pengertian serta bisa dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya.

PBL telah dikembangkan dan mengalami perkembangan pesat dalam pendidikan kedokteran pada pertengahan tahun 1950-an dan sejak itulah telah disempurnakan dan diimplementasikan pada lebih dari 60 sekolah kedokteran di Eropa dan Amerika. Siswa-siswa yang belajar dengan model pembelajaran ini lebih mandiri dan memiliki keingintahuannya lebih besar, sehingga mereka memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengaplikasikannya dalam dunia medis. Sekarang model pembelajaran ini telah diadopsi pada sejumlah lembaga pendidikan, seperti sekolah bisnis, sekolah pendidikan, kerja sosial dan perguruan tinggi.

PBL merupakan model pembelajaran yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. PBL mampu memberdayakan siswa dengan kebebasan yang lebih besar, mengaktivasi pembelajaran menjadi lebih menarik, meningkatkan penguasaan terhadap materi karena siswa mencari informasi dan menggunakannya secara aktif dalam menyelesaiakan permasalahan yang ditemukannya dalam kegiatan pembelajaran.
PBL berakar pada prinsip Dewey, “learning by doing and experiencing”, pandangan Dewey bahwa sekolah seharusnya menjadi laboratorium pemecahan masalah kehidupan nyata (Arends, 2007). PBL dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif yang menyatakan bahwa belajar suatu proses dimana pembelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran. Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu (1) belajar adalah suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process); (2) belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi sosial dan sifat kontekstual dari pelajaran (Ibrahim dan Nur, 2008).

PBL konsisten dengan pandangan filosofi pembelajaran sekarang, terutama konstruktivisme. Teori-teori konstruktivis tentang belajar, yang menekankan pada kebutuhan siswa untuk menginvestigasi lingkungan dan mengkonstruksikan pengetahuan secara personal yang memberikan dasar teoritis untuk PBL, seperti Piaget dengan teori kognitifnya, Vygotsky dengan konsep zone of proximal development. Menurut Vygotsky, belajar terjadi melalui interaksi sosial dengan guru dan teman sebaya yang lebih mampu. Selain itu, PBL juga menyandarkan diri pada konsep lain yang berasal dari Bruner yakni idenya tentang scaffolding, proses bagi seorang siswa yang dibantu guru atau teman sebaya yang lebih mampu untuk mengatasi masalah dan menguasai keterampilan yang sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini.

Hal ini sesuai dengan tiga prinsip konstruktivisme menurut Savery dan Duffу (1995), yaitu: (1) pemahaman datang dari interaksi dengan lingkungan, (2) konflik kognitif menstimulasi pembelajaran, dan (3) pengetahuan berkembang melalui negosiasi sosial dan evaluasi proses pemahaman seseorang. Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak absolut tetapi dikonstruksi oleh pembelajar berdasarkan pengetahuan awal dan pandangan terhadap dunia. Jadi kesempatan untuk menemukan pengetahuan sendiri, membedakan pemahaman pengetahuan diri dengan orang lain dan menyusun kembali pengetahuan yang lebih relevan dengan pengalaman diperoleh siswa dalam pembelajaran dengan model PBL.

PBL secara mendasar mengubah pandangan proses belajar mengajar dari guru mengajar ke siswa belajar. Sebaliknya, dalam pengajaran tradisional, siswa menganggap bahwa guru merupakan satu-satunya ahli dalam menentukan setiap langkah pengajaran atau stage on the stage, dan sebagai sumber pengetahuan. Dalam PBL siswa dituntut untuk bekerja secara kooperatif dan menjadi bagian dari kelompok (cooperative learning). Kunci keefektifan dalam PBL adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama secara efektif dalam memecahkan masalah (Akinoglu dan Ozkader, 2007). Dengan demikian dalam proses pembelajaran, fungsi guru dalam PBL adalah berperan sebagai fasilitator, motivator, organisator, dan evaluator.
PBL biasanya terdiri atas 5 (lima) tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Kelima tahapan tersebut yaitu:

1. Orientasi Siswa Pada Masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

2.Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

3.Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

4.Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

5.Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Bagaimana Starategi Pembelajaran Sains SD dengan PBL?

Ciri utama pembelajaran Sains melalui PBL adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah yang dilanjutkan dengan arahan guru pada siswa untuk menggali informasi, mengkonfirmasi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul di awal pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandirian

Pembelajaran Sains menggunakan model PBL haruslah mengembangkan kegiatan-kegiatan Sains yang bersifat kontekstual, yaitu: masalah-masalah yang dijadikan topik terkait dengan kehidupan sehari-hari, siswa merumuskan hipotesis, siswa mempersiapkan logistik yang diperlukan, siswa melakukan eksperimen, membuat laporan, siswa dapat menarik kesimpulan. Semua kegiatan tersebut harus berorientasi pada keaktifan siswa dalam Sains, rasa senang dan pengalaman nyata anak dengan lingkungan kehidupannya.
Strategi pembelajaran Sains melalui model PBL dapat dilihat pada diagram di bawah ini.


Pembelajaran Sains dengan PBL di dalamnya digunakan pendekatan pemecahan masalah, di mana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajari terlebih dahulu yang digunakan untuk menyelesaikan kesulitan masalah tersebut. Sains dengan PBL mengembangkan kebiasaan berpikir ilmiah dan berpikir bebas. Untuk mencocokkan masalah siswa harus berpikir, membuat hipotesis, membuktikan hipotesis, kemudian ditarik kesimpulannya.

Dalam menghadapi masalah yang dihadapi siswa dalam belajar tidak perlu emosional, putus asa, tetapi bertindaklah tenang, rasional, dan tidak terpengaruh oleh prasangka serta takhayul, Berbagai teknik pemecahan masalah dapat dterapkan dalam pembelajaran Sains. Banyak masalah Sains yang merupakan tantangan bagi siswa, seperti: mengapa terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, mengapa accu (aki) dapat mengahasilkan listrik, mengapa kelelawar dapat terbang dalam keadaan gelap, bagaimana terjadinya embun pada daun tumbuhan, dan lain sebagainya. Cara yang terbaik bagi guru dalam membimbing siswa untuk memecahkan masalah tersebut adalah langkah demi langkah dengan menggunakan contoh, gambar dan lain-lain. Dengan dibimbing anak anak dapat menemukan sendiri jalan pemecahan masalah tersebut sesuai dengan langkah pembelajaran dalam PBL.

Secara ringkas, pembelajaran Sains melalui model PBL dapat terlaksana dengan baik apabila:
1.Tersedianya masalah untuk siswa merupakan syarat awal yang harus dipenuhi dalam PBL dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Masalah yang relevan dalam mengajarkan Sains haruslah berupa masalah-masalah kontekstual (contextual problems).
2.Dalam melaksanakan model PBL, guru harus memperhatikan: (a) sajian bahan ajar berupa masalah yang memicu terjadinya konflik kognitif di dalam diri siswa, (b) tidak perlu cepat-cepat memberi bantuan pada siswa, agar perkembangan aktual siswa maksimal, (c) intervensi yang diberikan harus minimal dan ketika benar-benar dibutuhkan siswa, dan (d) agar intervensi yang dilakukan efektif, perlu mengetahui pengetahuan siap siswa (prior knowledge) dan mempertimbangkan berbagai alternatif solusi masalah yang berada dalam koridor pengetahuan siswa.


Penulis : Alumnus Program Magister Pendidikan Dasar UPI Bandung dan Guru SDN Cisurupan 02 Kecamatan Cisurupan Garut