Cari Blog Ini

LAPORAN UTAMA, PENDIDIKAN, KESEHATAN, LINGKUNGAN, DAERAH

Kamis, 12 Januari 2012

2012 : Momentum PNS Untuk Merubah Pola Pikir



OLEH: MUHAMMAD REZA PUTRA
STAF PADA DIREKTORAT PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN KEPEGAWAIAN III BKN

Do not wait; the time will never be “just right.” Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as you go along  (Napoleon Hill)

I. Pendahuluan

Ungkapan bijak dari Napoleon Hill ini kiranya dapat menjadi renungan untuk kita bahwa Jangan menunggu karena tak akan ada waktu yang tepat. Mulailah dari sekarang, dan berusahalah dengan segala yang ada. Seiring waktu, akan ada cara yang lebih baik asalkan tetap berusaha.”

Waktu terus berjalan dan berubah, dan tidak ada sesuatu yang tidak berubah di jagad raya ini kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu terjadi dengan sendirinya karena dimakan usia seperti umur suatu benda yang lama kelamaan terus berubah tanpa harus ada campur tangan manusia dan orang sering mengatakannya telah dimakan usia. Namun perubahan perilaku manusia memerlukan usaha/ikhtiar yang diawali niat, termasuk memaknai pergantian tahun baru. Karena tak terasa kita akan meninggalkan tahun 2011 dan  memasuki tahun baru 2012, dan kita berharap termasuk golongan orang yang beruntung dan bukan termasuk golongan orang yang merugi karena tidak melakukan perubahan, bahkan akan lebih merugi lagi apabila kita pada tahun baru ini justru tidak dapat lebih baik dari sebelumnya.

Untuk dapat menjadi lebih baik, kita dapat berkaca diri guna melihat kembali apa yang selama satu tahun yang telah dilalui. Tujuannya dilakukan evaluasi terhadap kinerja PNS  adalah untuk mengetahui keberhasilan atau ketidak berhasilan seorang Pegawai Negeri Sipil, dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya.

Perubahan itu sendiri pada hakekatnya adalah perubahan mental, pola pikir (mind set), dan budaya kerja (culture set) lama menjadi perubahan mental, pola pikir dan budaya kerja yang baru. Orang yang melakukan perubahan berarti ia harus merubah pola pikir dalam berperilaku sehari-harinya. Seseorang yang masih memiliki pemikiran bahwa yang biasa dilakukannya selama ini adalah yang paling benar, maka sudah tentu orang yang demikian belum mau berubah dalam pola pikirnya dalam menuju kebaikan.

Berkaca dari pengalaman tersebut, maka yang timbul dalam pemikiran penulis, bagaimana dengan PNS dalam memasuki tahun baru 2012 ini? Perubahan apa saja yang harus dilakukan oleh PNS guna mendukung percepatan program pemerintah dalam pelaksanaan reformasi birokrasi? Penilaian masyarakat yang masih skeptis terhadap PNS tergolong masih rendah yaitu rendahnya dalam memberikan pelayanan dan berbelit-belit, disiplin yang rendah, korup, kewajiban masyarakat untuk membayar mahal pelayanan secara ilegal yang seharusnya menjadi tanggung jawab konstitusional negara dan pemerintah, Pungutan ilegal ini merupakan biaya ketidakpastian (cost of uncertainty) yang harus dikeluarkan oleh masyarakat setiap kali berhadapan dengan birokrasi untuk mendapatkan pelayanan publik, dan memiliki etos kerja yang rendah. Momentum tahun baru 2012 ini merupakan suatu pembuktian kepada masyarakat bahwa PNS dapat melakukan perubahan untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, sehingga stigma buruk masyarakat kepada PNS dapat dihilangkan.
 
II. Perubahan Pola Pikir

Pola pikir menurut Ibrahim Elfiky adalah sebagai sekumpulan pikiran yang terjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu serta diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat dan waktu yang sama, pada dasarnya pola pikir ini sudah mengakar dalam diri seseorang, dan ini dapat kita lihat dalam pola perilaku sehari-hari. Adapun pola pikir yang dapat menghambat pelaksanaan tugas  sebagian besar PNS dalam melaksanakan tugasnya sangat banyak, tetapi penulis mencoba memberikan batasan yaitu berupa :

1. Individualistis

Individualistis terkadang adalah suatu aib di dalam organisasi yang menuntut kerja sama tim, terutama dalam organisasi birokrasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kinerja PNS yang individualis ini cenderung tertutup, tidak mau bekerjasama dengan anggota tim, bermental bahwa yang dapat menyelesaikan segala pekerjaan adalah dirinya sendiri, cenderung berpikir bahwa dirinyalah yang paling pintar, paling dibutuhkan pimpinan, paling menguasai pekerjaan.

2. Rendahnya Kompetensi dan Skill PNS

Permasalahan yang saat ini dihadapi oleh birokrasi adalah masih rendahnya kompetensi dan skill PNS, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan dalam sistem manajemen kepegawaian dalam rangka pendayagunaan aparatur negara. Perbaikan tersebut bisa difokuskan pada tiga unsur utama dalam upaya menciptakan kinerja aparatur yang bersih dan profesional, yaitu metode dan pola rekruitmen, sistem pengembangan pola karir dan sistem pengukuran beban kerja. Ketiga unsur ini merupakan core (inti) dari sistem pendayagunaan aparatur.

3. Rendahnya kepekaan terhadap pelayanan kepada masyarakat

Krisis yang sering dihadapi oleh aparat dalam pemerintahan yang tidak lepas dari kegagalan mengembangkan sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan yang berdasarkan prinsip-prinsip good governance. Hal ini sering digambarkan oleh masyarakat bahwa aparatur tidak produktif, tidak efesien, rendah kualitas, miskin kreatifitas dan inovasi, dan berbagai kritik lainnya. Pelayanan publik masih jauh dari harapan dan keinginan masyarakat. Meskipun pemerintah sudah terus berupaya melakukan perbaikan dalam menetapkan kedisiplinan, penghematan, budaya kerja, pelayanan prima, netralitas birokrasi, sampai dengan penerbitan berbagai peraturan perundang-undangan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah.

4. Tidak kompetitif

Pola pikir PNS yang belum memiliki jiwa bekerja tanpa perencanaan terlebih dahulu dan tidak memiliki kesadaran dalam terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dalam melaksanakan tugas masih menjadi penghambat dalam pola pikir dalam menunjang pelaksanaan reformasi birokrasi. Akibatnya PNS kurang berkembang dan cenderung tidak kompetitif jika dibandingkan dengan pegawai swasta.

Dari keempat hambatan dalam pola pikir PNS yang dapat menghambat pelaksanaan tugas, sebagaimana dipaparkan oleh penulis di atas, bukan berarti tidak dapat diubah, tetapi dengan tekad dan  niat yang tulus ikhlas dari diri sendiri. Tetapi yang tak kalah mendasar untuk merubah pola pikir yang menghambat pelaksanaan tugas tersebut dilakukan dengan kedisiplinan, dengan kata lain bahwa kunci perubahan pola pikir adalah disiplin. Diawali dengan disiplin maka diharapkan tahun 2012 ada perubahan pola pikir yang dapat menunjang pelaksanaan reformasi birokrasi. Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar